Menceritakan Jember, tembakau, dan cerutu kepada banyak orang selalu menjadi kesenangan dan kebanggaan bagiku, dari dulu hingga sekarang. Terlebih, ada sedikit ulasan social history yang telah menjadi perhatianku selama bertahun-tahun. Dunia harus tahu bahwa di balik perjalanan tembakau, ada banyak hal yang layak diapresiasi. Bukan hanya sekadar mengenal sisi negatif yang kerap dipropagandakan oleh kelompok anti-tembakau.
Tembakau dari Jember telah mendunia sejak era kolonial. Jejak sejarahnya masih bisa ditemukan, baik dalam bentuk bangunan tua, struktur sosial-ekonomi, maupun budaya yang masih hidup hingga kini. Jika sebelumnya orang luar negeri hanya mengenalnya sebatas informasi di atas kertas, kini, saat mereka berkunjung, mereka bisa melihat, menyentuh, dan merasakan langsung kisah yang telah terjalin selama berabad-abad.

Hari itu, tamu-tamu dari Jerman melangkah masuk ke pabrik cerutu BIN Cigar. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka menyusuri meja kerja dengan tumpukan daun pilihan, mengamati para pekerja wanita yang dengan terampil menggulung cerutu satu per satu. Aku menceritakan kepada mereka bagaimana tembakau Jember telah menjadi bagian dari sejarah perdagangan dunia, bagaimana ia telah melewati berbagai tantangan zaman, dan bagaimana para petani serta pekerja di baliknya terus menjaga kualitas yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Bukan sekadar cerita industri, tembakau adalah bagian dari identitas dan warisan budaya. Setiap lembar daunnya mengandung jejak perjuangan, keringat para petani, dan harapan untuk masa depan. Para tamu mendengarkan dengan seksama, melihat sendiri bahwa ada lebih dari sekadar produk di balik tembakau—ada perjalanan panjang yang patut dihargai.
Semoga, cerutu dari Jember juga akan mendunia, berdiri sejajar dengan merek-merek besar di kancah internasional. Bersama BIN Cigar, kami yakin cerutu Indonesia akan berjaya.
Salam Cigar!
Foto: Saat kunjungan tamu dari Jerman di BIN Cigar


