Seperti yang diceritakan oleh Faesol, pemandu dan porter Gunung Raung
Gunung Raung selalu menjadi gunung acuan di Jawa Timur. Jalurnya panjang, medannya menantang, cuaca sering berubah cepat, dan setiap pendaki yang berhasil sampai puncak pasti membawa pengalaman yang sulit dilupakan.
Kali ini saya mendapat kesempatan mendampingi dua tamu dari Bojonegoro, Maela dan Bahrudin, untuk pendakian Gunung Raung via Sumberwringin selama 2 hari 2 malam. Mereka mengetahui informasi trip melalui Instagram, lalu menghubungi untuk booking pendakian tanggal 30 April.


Perjalanan dari Bojonegoro ke Jember
Kedua tamu berangkat dari Bojonegoro menggunakan kereta api dan turun di Jember. Setelah itu mereka menyewa motor untuk menuju titik pertemuan.
Saat tiba sekitar pukul 15.00 WIB, hujan deras sedang mengguyur kawasan kaki Gunung Raung. Kondisi ini tentu tidak ideal untuk memulai pendakian. Setelah berdiskusi, kami sepakat menunda keberangkatan dan memulai perjalanan keesokan paginya.
Keputusan yang tanggap seperti ini sering kali menjadi kunci keselamatan dalam pendakian.
Briefing dan Persiapan Pendakian
Sebelum mendaki, saya memastikan seluruh perlengkapan mereka sudah siap, antara lain:
- Tenda
- Sleeping bag
- Jaket gunung
- Trekking pole
- Peralatan masak
- Logistik makanan
- Air minum 10 liter
Jalur Gunung Raung via Sumberwringin dikenal minim sumber air, sehingga kebutuhan air harus diperhitungkan sejak awal.
Saya juga menanyakan kesiapan fisik mereka. Ternyata keduanya sudah rutin berlatih dan sebulan sebelumnya baru mendaki Gunung Sumbing. Modal yang bagus, meskipun Raung memiliki tantangan yang berbeda.
Start Pendakian via Sumberwringin
Pukul 06.00 WIB kami berangkat menuju basecamp Sumberwringin. Sesampainya di sana, petugas memberikan briefing mengenai jalur, estimasi waktu, dan elevasi.
Sekitar pukul 07.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju titik awal trekking.
Estimasi jalur pendakian:
- Basecamp ke Pos Ojek: ±1 jam
- Pos Ojek ke Pondok Sumur: 4–5 jam
- Pondok Sumur ke Pondok Tonyok: 1–2 jam
- Pondok Tonyok ke Pondok Demit: 1 jam
- Pondok Demit ke Pondok Mayit: 1 jam
- Pondok Mayit ke Pondok Angin: 1 jam
- Pondok Angin ke Puncak: ±1,5 jam
Hujan, Lumpur, dan Mental yang Kuat
Perjalanan menuju camp tidak mudah. Dari Pos 3 hingga Pos 6 kami diguyur hujan cukup lama. Jalur licin dan udara dingin mulai terasa.
Namun yang menarik, kedua tamu tetap menunjukkan semangat luar biasa. Tidak banyak mengeluh, tetap fokus berjalan, dan menikmati proses.
Inilah salah satu hal penting dalam pendakian Gunung Raung: bukan hanya soal tenaga, tetapi juga soal mental.
Bermalam di Pondok Mayit
Sekitar pukul 16.00 WIB kami tiba di area camp Pondok Mayit dan segera mendirikan tenda.
Malam itu kami memasak makan malam sederhana:
- Nasi hangat
- Sup telur
- Tahu dan tempe
Di tengah udara dingin dan kabut pegunungan, makanan sederhana terasa sangat nikmat.
Sambil menikmati kopi hangat, kami berbincang santai. Mereka mengakui bahwa trek Raung menjadi jalur terberat dibanding gunung-gunung yang pernah didaki sebelumnya.
Pukul 21.00 WIB kami beristirahat untuk persiapan summit attack.
Summit Attack Menuju Puncak Raung
Pukul 05.00 WIB kami memulai perjalanan menuju puncak dengan perlengkapan ringan:
- Air minum
- Makanan ringan
- Headlamp
- Jaket
- Sarung tangan
- Trekking pole
Perjalanan pagi itu cukup bersahabat. Udara dingin namun jalur masih aman dilalui.
Sekitar pukul 07.30 WIB kami tiba di puncak Gunung Raung.
Momen seperti ini selalu spesial. Kedua tamu langsung berteriak bahagia karena berhasil menuntaskan pendakian. Rasa lelah sepanjang perjalanan seolah langsung terbayar lunas.

Turun Gunung di Tengah Cuaca Buruk
Saya mengingatkan agar segera turun sebelum kabut menutup jalur dan energi terlalu banyak terkuras.
Kami kembali ke camp pukul 09.00 WIB, makan siang, berkemas, lalu turun pukul 10.00 WIB.
Tak lama setelah meninggalkan Pondok Mayit, hujan kembali turun. Tubuh mulai menggigil, sepatu basah, dan jalur berubah menjadi lumpur.
Dalam kondisi seperti ini, fokus menjadi hal utama. Kami lebih banyak diam dan menjaga ritme langkah hingga akhirnya tiba di Pos Ojek sekitar pukul 15.00 WIB.
Pukul 16.00 WIB kami sampai kembali di basecamp dengan selamat.
Pengalaman yang Tak Terlupakan
Sebelum berpisah, kedua tamu menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan selama pendakian. Mereka mengaku perjalanan ini menjadi salah satu pengalaman terbaik sekaligus paling menantang yang pernah mereka rasakan.
Bagi saya pribadi, menjadi guide bukan sekadar mengantar tamu ke puncak. Lebih dari itu, ini tentang membantu orang lain merasakan pengalaman berharga, aman, dan pulang membawa cerita.


