Img 6446

Cerutu, Kopi, dan Batu Bernyanyi: Menemukan Kembali Jember Melalui Selo Bonang dan Slow Journey

Ada kalanya sebuah perjalanan dimulai bahkan sebelum kita berangkat. Bahkan bermula dari perjumpaan setelah sekian tahun berlalu dan tak bertemu, kemudian reconnected dari percakapan masa lampau mengalir menuju tempat yang selama ini berada begitu dekat dengan kehidupan kita.


Malam itu saya berbincang dengan seorang karib lama, Pak Wyn. Perkenalan kami bermula dari dunia organisasi radio Orari dan Rapi – media penggemar two-ways radio, ruang eksperimen teknis dan media gagasan bertemu tanpa banyak sekat.

Bertahun-tahun berlalu, kemudian atas undangan pak Wyn aku diperkenalkan dengan Nara Bestari, yayasan yang berkecimpung pada ruang seni-budaya, ekologi dan ekonomi berkelanjutan. Malam itu aku bersama istri diperkenalkan dengan foundernya pak Hadi dan bu Hadi. Layaknya sohib yang gak bertemu lama “Gimana pak Wyn, sehat?. Lama gak berjumpa, ada update apa lagi nih?”sapaku sambil aku menjulurkan tangan dan duduk bersanding dengannya – ada sedikit perubahan fisik memang, dia terlihat kurusan dengan wajah cekung dan berkacamata. Terakhir aku pantau via FB dia masih aktif gowes bersepeda pancal dengan grupnya. Sosoknya yang multi minat dan komunitas tak heran banyak yang mengenalnya.

Malam itu dia tengah menterjemahkan isi dari program movement Green Jobs pada grup kecil yang diantaranya ada mahasiswa dan dosen FIB Unej. Tak heran dialah yang paling menonjol secara bahasa Inggris, kilas hidupnya pernah lama tinggal di USA dari scholarahip yang ia jalani dan menetapkan kariernya disana.


Pertemuan kedua kali ini ngobrol santai aja back and forth lintas waktu; sekilas tentang masa mudanya di fakultas Antropologi UI, yang rupanya sejaman dengan antropologist Ratna Saptari – figur rujukan kami perihal sejarah tembakau era colonial-postcolonial. Sampai cerita singkat dia melanjutkan studinya dengan major Development of Curriculum Study di US. Di rumah kami, malam itu mengalir saja antara sejarah lisan tembakau di Jember – bagaimana dia mengenal sosok juragan tembakau Haji Anwar Maksum yang terpandang di Sumbersari dan satu-satunya yang punya mobil Impala di Jember dan hanya segelintir pemilik waktu itu di Indonesia. Kenapa dalam ingatannya masih lekat, sebab anak perempuan juragan adalah karib sekolah dan sesekali dia mengamati perilaku pekerja di gudang pengolahan tembakau, bagaimana pengepresan bal tembakau menggunakan mesin putar baja yang didorong 4 orang sekaligus, kemudian menjahit tepian dengan tali rami yang pembungkusnya berbahan daun pandan, sampai keluar masuknya truk pengangkut bal temnbakau untuk dikirim ke pelabuhan Perak, konon katanya kontainer kapal membawanya ke Bremen.

Pak Wyn, dengan latar belakang antropologi dan pengalaman studi di US, membawa perspektif yang selalu menarik untuk didengar. Mulai dunia akademis, antropologi, kehidupan sosial masyarakat, hingga pandangan mengenai situasi politik Indonesia hari ini; kegagalan kabinet, eksploitasi atas nama ketahanan pangan di Papua, dan goncangan currency beberapa bulan kedepan membuat sangsi rakyat kebanyakan.

Sebatang cerutu medium ditangan telah habis, dan robusta panas baru saja disajikan. Cara kami menyajikan kopi tubruk dengan menuangkan perlahan dari teko ke sloki. Seperti biasa cukup tanpa gula bagiku dan pak Wyn memilih menambahkan two spoon of sugar.

Seraya merogoh sesuatu, rupanya pak Wyn mau menunjukkan bungkusan tembakau rajang halus, dalam wadah rajutan daun kering berlapis. Etnis banget. Didalamnya disertakan papir tipis dan tusuk gigi. Itu tools sederhana buat hand rolled kretek. Seraya mendemokan kebiasaan aku minta sebatang. Wringin Anom, cukup lembut sweetie creamy di catatan tasteku, meski aku bakal pilih papir plain tawar jika tersedia.

Percakapan berlangsung dalam campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan pada bahasa dan komunikasi, saya menikmati momen tersebut. Dalam keseharian jarang aku berbicara in English but this time makes me practice and the one infront of me realy shows his fluently dan bahasa sering kali menjadi pintu masuk untuk memahami cara seseorang melihat dunia.

Di tengah percakapan itu, kopi dan cerutu hadir sebagai teman setia. Aku kemudian mencari sesuatu, melanjutkan cerita dan cerutu yang aku temukan berukuran torpedo figurnya tebal dan panjang – cerutu kedua hari ini, mantap aroma tebal mengisi ruangan.

Bagi sebagian orang, keduanya mungkin hanya komoditas. Namun bagi kami, kopi dan cerutu lebih menyerupai medium sosial. Keduanya menciptakan ritme yang lebih lambat. Orang tidak terburu-buru menyelesaikan kalimat. Cerita memiliki waktu untuk berkembang. Ide diberi ruang untuk tumbuh.

Cerutu khususnya memiliki tempat tersendiri dalam pengalaman saya. Ia bukan sekadar produk tembakau. Cerutu adalah teman perjalanan, penanda jeda, dan ruang percakapan yang membuat segala sesuatu terasa lebih santai dan lebih manusiawi.

Mungkin karena itulah ketika pembahasan beralih ke sebuah tempat bernama Selo Bonang, kami tidak sedang membicarakan destinasi wisata semata. Kami sedang membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari sebuah lanskap budaya.


Sebagai warga Jember, saya merasa penting untuk mengenal lebih dekat berbagai warisan budaya yang hidup di sekitar daerah ini.

Sering kali kita terlalu sibuk melihat tempat-tempat jauh hingga lupa bahwa di sekitar kita terdapat kekayaan budaya yang belum sepenuhnya kita pahami.

Selo Bonang adalah salah satunya.

Terletak di kawasan pegunungan bagian utara Jember, Selo Bonang dikenal karena fenomena batu-batu yang menghasilkan bunyi bernada, denting bertumbuk. Fenomena ini menjadikannya berbeda, khas ditambah lanskap alam pegunungan dan bentang panoramik kita melihat topografi tengah kota dan nun jauh samar indian ocean ke arah selatan dan sulur aliran gemericik dari mata air. Batu-batu bukan hanya objek geologi, melainkan bagian dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan yang berkembang di kawasan tersebut. Ini tentu saja menjadi bagian kajian tersendiri.

Bagi masyarakat setempat, Selo Bonang bukan sekadar lokasi wisata. Ia adalah ruang hidup yang diwariskan, dirawat, dan diberi makna dari generasi ke generasi.

Di kawasan ini masih hidup berbagai tradisi budaya yang menunjukkan hubungan erat antara masyarakat dan alam. Salah satunya adalah ritual Pager Gunung yang hingga kini terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Makna tersebut terasa semakin relevan pada masa sekarang.

Di tengah percepatan pembangunan, meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi seperti Pager Gunung mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang konservasi fisik, tetapi juga tentang cara manusia memahami posisinya di dalam alam.


Yang menarik dari Selo Bonang bukan hanya batu bernyanyi, lebih menarik adalah suasana yang mengelilinginya.

Hamparan kebun kopi rakyat. Udara pegunungan yang sejuk. Desir angin yang bergerak di antara pepohonan. Suara burung. Aliran air yang turun dari lereng.

Dan di sela semua itu, bunyi batu yang memantulkan resonansi semesta.

Lanskap semacam ini semakin langka ditemukan.

Bukan karena alamnya menghilang, melainkan karena kemampuan kita untuk benar-benar hadir di dalamnya semakin berkurang.

Kita hidup dalam budaya yang serba cepat. Perjalanan menjadi daftar destinasi. Wisata menjadi aktivitas mencentang lokasi. Foto lebih penting daripada pengalaman. Kita tiba, memotret, lalu pergi.

Selo Bonang menawarkan sesuatu yang berbeda.

Tempat ini tidak cocok untuk wisata tergesa-gesa. Tidak cocok untuk kunjungan singkat yang hanya mengejar dokumentasi media sosial.

Selo Bonang lebih cocok dinikmati perlahan. Berjalan menyusuri. Dengan duduk lebih lama. Dengan mendengarkan. Dengan memberi kesempatan kepada tempat itu untuk bercerita.


Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia pemanduan wisata alam, saya melihat ada kecenderungan yang mulai berubah dalam dunia perjalanan.

Semakin banyak orang mencari pengalaman yang lebih personal.

Lebih mendalam. Lebih bermakna.

Mereka tidak lagi hanya mencari objek wisata. Mereka mencari hubungan.

Hubungan dengan tempat. Hubungan dengan masyarakat lokal. Hubungan dengan alam. Dan terkadang hubungan dengan diri mereka sendiri.

Di sinilah konsep slow journey menjadi relevan.

Slow journey bukan berarti bergerak lambat tanpa tujuan. Ia adalah upaya mengembalikan kualitas pengalaman dalam sebuah perjalanan.

Alih-alih mengejar sebanyak mungkin tempat, kita memilih untuk memahami satu tempat dengan lebih baik.

Alih-alih berlari dari bandara ke Bromo, lalu ke Ijen, kemudian ke Bali, kita memberi waktu bagi sebuah lanskap untuk memperkenalkan dirinya.

Kita mendengar cerita warga. Kita memahami sejarahnya.

Kita mencicipi kopi yang tumbuh di pegunungan yang sama.

Kita menikmati cerutu sambil memandangi pegunungan yang membentuk karakter masyarakat di sekitarnya.

Dan perlahan kita menyadari bahwa perjalanan terbaik sering kali bukan tentang sejauh apa kita pergi, melainkan seberapa dalam kita memahami tempat yang kita kunjungi.


Dalam percakapan malam itu, muncul pula diskusi mengenai kemungkinan peran berbagi-inisiatif yang selama ini kami jalankan.

Debako mendokumentasikan dunia tembakau dari perspektif petani, budaya, dan masyarakat. Menjadi ruang kolektif mengenai cerutu, kopi, perjalanan, dan budaya nikmat lambat.

Sementara Yayasan Nara Bestari mengembangkan pendekatan geokultural yang melihat alam dan budaya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Keduanya memiliki titik temu yang menarik di Selo Bonang. Dan sebagai figur senior tentu saja pak Wyn memberikan asa kepada kami perihal membantu memperkenalkan nilai-nilai yang sudah ada di sana.

Menghubungkan komunitas.

Membuka ruang pembelajaran.

Mengajak lebih banyak orang untuk mengalami keterhubungan dengan sekitar.


Ketika saya mengantar Pak Wyn kembali ke tempat tinggalnya malam itu, jadwal selanjutnya beberapa minggu ke depan mulai tertata:

Sebuah rasa ingin tahu bersama. Keinginan untuk datang. Melihat langsung. Mendengarkan.

Belajar dari masyarakat yang telah lama merawat kawasan tersebut.

Karena pada akhirnya, discovery masih terus berlanjut.

Mungkin kunjungan pertama hanya akan menghasilkan lebih banyak pertanyaan.

Mungkin akan muncul ide-ide baru yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya.

Mungkin akan ditemukan cerita-cerita yang belum pernah ditulis.

Atau mungkin justru kami akan belajar bahwa hal terpenting bukanlah menemukan sesuatu yang baru, melainkan melihat kembali apa yang selama ini sudah ada di hadapan mata.

Sebagai warga Jember, saya merasa perjalanan menuju Selo Bonang bukan sekadar destinasi.

Ia adalah perjalanan untuk mengenal kembali rumah sendiri yaitu alam.

Dan seperti semua perjalanan yang baik, saya tidak benar-benar tahu apa yang akan ditemukan di sana.

Tetapi saya yakin perjalanan itu layak dilakukan;

Dengan langkah yang lebih lambat. Dengan pikiran yang lebih terbuka. Dengan secangkir kopi dan sebatang cerutu.

0 / 5. 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *