Terdapat sebuah kutipan yang sering digunakan untuk menggambarkan pola kolonialisme di Hindia Belanda: “Dimana ada tanah subur, di situlah Belanda membangun infrastruktur—jalan, bangunan, pabrik, dan perumahan.” Kutipan ini memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan wilayah Jember, Jawa Timur, khususnya sejak abad ke-19.

Kesuburan tanah Jember menjadi faktor utama yang mendorong pemerintah kolonial mengembangkan wilayah ini sebagai pusat perkebunan. Komoditas ekspor seperti tembakau, kopi, dan karet ditanam dalam skala besar melalui sistem perkebunan (onderneming). Komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional, sehingga menjadikan Jember bagian penting dari jaringan ekonomi kolonial.
Untuk menunjang produktivitas dan distribusi hasil perkebunan, Belanda membangun berbagai infrastruktur. Salah satu yang paling signifikan adalah jalur kereta api Jember–Kalisat yang dibangun pada tahun 1897. Jalur ini kemudian diperpanjang hingga Banyuwangi pada awal abad ke-20, sehingga memudahkan pengangkutan hasil perkebunan menuju pelabuhan ekspor.
Selain itu, Belanda juga mendirikan pabrik pengolahan tembakau pada akhir abad ke-19, salah satunya yang terkenal adalah pabrik tembakau di Ajung (sekitar tahun 1895) yang dikelola oleh perusahaan perkebunan swasta. Pabrik-pabrik semacam ini digunakan untuk fermentasi dan penyimpanan tembakau na-oogst, yang kualitasnya sangat diminati pasar Eropa. Infrastruktur berupa gudang, kantor administrasi, dan perumahan staf perkebunan pun ikut tumbuh mengelilingi kawasan industri ini.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur di Jember tidak semata-mata diarahkan untuk kepentingan masyarakat lokal, melainkan untuk kepentingan kolonial: memaksimalkan produksi dan mempercepat distribusi komoditas ekspor. Namun, warisan infrastruktur tersebut pada akhirnya turut membentuk struktur sosial, ekonomi, dan spasial Jember hingga era kontemporer.
Konteks historis ini menunjukkan bahwa relasi antara kesuburan tanah, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi ekonomi kolonial merupakan faktor penting dalam memahami perkembangan Jember sebagai wilayah perkebunan yang masih bertahan hingga kini.
