6ee80605 Bbec 490a A495 83cd3f84d507

Tembakau untuk Kehidupan

Oleh: Elok Mahbub (tobacco and cigar enthusiast)

Setiap tanggal 31 Mei, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Kampanye ini digagas dengan tujuan mulia: mengurangi dampak kesehatan akibat konsumsi tembakau. Dunia berbicara tentang kanker, penyakit paru, dan ancaman kesehatan publik. Namun di balik slogan global itu, ada kenyataan lain yang sering tidak ikut terdengar—suara petani, buruh tani, perajang, pengering, dan keluarga-keluarga desa yang hidup dari tembakau.

Bagi sebagian orang, tembakau hanyalah asap dan statistik kesehatan. Tetapi bagi banyak masyarakat agraris di Indonesia, tembakau adalah kehidupan. Ia menjadi sumber nafkah, biaya sekolah anak, perputaran ekonomi desa, dan hasil pengetahuan panjang lintas generasi.

Tulisan ini bukan pembelaan buta terhadap rokok, dan bukan pula penolakan terhadap isu kesehatan. Risiko kesehatan akibat konsumsi tembakau tetap nyata. Namun pembicaraan tentang tembakau tidak boleh berhenti hanya pada batang rokok dan statistik kematian. Ada dimensi sejarah, budaya, ekonomi, dan kedaulatan masyarakat agraris yang juga perlu dilihat secara adil.

Tembakau telah menjadi bagian panjang dari sejarah Nusantara. Dalam perjalanan kolonialisme dan perdagangan dunia, tanaman ini tumbuh dan membentuk kawasan-kawasan ekonomi baru. Dari Deli di Sumatera hingga Temanggung, Madura, Jember, Lombok, dan Kudus, tembakau berkembang menjadi identitas sosial dan ekonomi masyarakat. Ia bukan tanaman asing yang singgah sesaat, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa.

Sortasi tembakau cerutu

Di balik selembar daun tembakau, terdapat keahlian manusia yang tidak sederhana. Petani membaca arah angin dan musim, mengenali karakter tanah, memilih bibit, menentukan waktu tanam, hingga memahami proses curing dan fermentasi. Setiap daerah memiliki karakter dan teknik sendiri. Ada pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dibangun dari pengalaman panjang menghadapi alam.

Daun tembakau tidak lahir dari mesin. Ia lahir dari kesabaran petani, ketelitian membaca musim, dan pengalaman bertahun-tahun yang tidak dapat digantikan begitu saja.

Di banyak daerah, musim tembakau juga menjadi penggerak utama ekonomi rakyat. Saat panen berhasil, pasar desa hidup, pedagang kecil bergerak, tukang angkut bekerja, dan rumah-rumah diperbaiki. Dari hasil tembakau, banyak keluarga membiayai pendidikan anak, menikahkan keluarga, bahkan membangun usaha kecil lainnya.

Karena itu, ketika dunia berbicara tentang penghapusan tembakau tanpa memahami struktur sosial di baliknya, muncul kegelisahan besar di kalangan masyarakat agraris. Mereka merasa yang dibicarakan hanya produk akhirnya, sementara manusia yang hidup di hulunya perlahan diabaikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap industri tembakau semakin besar. Regulasi diperketat, biaya produksi meningkat, dan ruang gerak petani kecil makin sempit. Di atas kertas, kebijakan ini mungkin terlihat sebagai perlindungan kesehatan. Namun di lapangan, situasinya jauh lebih rumit.

Yang paling pertama merasakan tekanan bukanlah korporasi besar, melainkan petani kecil. Perusahaan besar masih memiliki modal, teknologi, dan kemampuan bertahan menghadapi regulasi. Sementara petani kecil justru makin tergantung pada sistem yang mereka tidak kuasai.

Perlahan-lahan, petani yang dulu relatif berdaulat atas lahannya mulai kehilangan posisi tawar. Mereka semakin tergantung pada perusahaan besar, harga pasar, dan rantai distribusi yang tidak mereka kendalikan. Di sinilah persoalan tembakau berubah menjadi persoalan yang lebih besar: hilangnya kedaulatan agraris.

Yang perlahan hilang bukan hanya tanaman tembakau, tetapi kemampuan petani menentukan hidupnya sendiri.

Tentu saja kesehatan publik tetap penting. Anak-anak harus dilindungi, konsumsi berlebihan harus disadari risikonya, dan masyarakat berhak mendapatkan informasi kesehatan yang jujur. Tetapi kebijakan global juga harus mempertimbangkan keadilan sosial dan ekonomi. Tidak adil jika masyarakat agraris dipaksa menanggung seluruh beban perubahan, sementara struktur ekonomi besar tetap bertahan dan beradaptasi.

Karena itu, membicarakan tembakau seharusnya tidak hanya soal larangan dan penghapusan. Pembicaraan juga harus menyentuh nasib petani, masa depan desa, pengetahuan lokal, dan hak masyarakat untuk mempertahankan ruang hidupnya.

Tembakau bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah manusia, hasil hubungan panjang antara tanah, musim, dan kerja keras. Bagi sebagian orang, tembakau mungkin hanya asap. Tetapi bagi banyak keluarga petani, tembakau adalah kehidupan yang mereka perjuangkan setiap musim dengan harapan dan ketekunan.

Petani tembakau cerutu di Jember

0 / 5. 0

No votes so far! Be the first to rate this post.