Hari itu terjangkar pada gelaran dokumenter viral, venue formal di gedung aula kampus Muhammadiyah. Layaknya hari yang sudah lewat, kemasan paket mestinya kelar sebelum sore. Kami berbagi tugas dengan titik temu yang sudah disepakati.
Petang menjelang dan kerumunan mahasiswa bergegas, dress code hitam menapaki lantai dua sisi kiri untuk perempuan dan sisi kanan untuk laki-laki – begitulah formatnya. Beberapa menit setelah kami tiba, MC membuka acara. Seperti seremoni kampus pada umumnya, rangkaian dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa. Aku berdiri di barisan belakang, sementara istri memilih berada di barisan depan agar lebih nyaman.
Secara keseluruhan, kami menikmati suasananya. Visual dengan dua screen jumbo dan audio cukup baik untuk ukuran aula universitas, meski bukan sekelas sinema. Paling tidak suhu ruangan cukup dingin, cukup nyaman. Ada kesungguhan dalam mengemas acara itu dipersiapkan.
Malam itu agenda utama adalah pemutaran dokumenter Pesta Babi.
Jika harus merangkumnya dari sudut pandangku, dokumenter ini berbicara mengenai bagaimana regulasi dan perundang-undangan pada akhirnya merupakan bentuk konsesi yang dilegalkan. Namun pertanyaannya bukan sekadar soal legalitas, melainkan dampak yang ditinggalkan: perubahan lanskap, ketidakseimbangan ekologi, hingga bagaimana efeknya merambat kepada masyarakat adat yang hidup paling dekat dengan ruang tersebut.
Sebagai penonton, kami diajak melihat persoalan dari banyak sudut. Dokumenter itu tidak menawarkan jawaban tunggal, tetapi membuka ruang bagi penonton untuk membentuk pandangan masing-masing.
Kami tidak mengikuti acara hingga selesai. Sesi diskusi terpaksa kami lewatkan karena ada agenda lain yang menunggu malam itu.


Di tengah scroling konten hape utama berdering, kubiarkan sesaat – sedikit heran gak biasanya Pak Wyn—teman lama yang sudah cukup lama tidak bertemu—menghubungiku siang itu, entah salah pencet kali. Aku terima dan tak menjawab.
“An, nanti malam datang ya. You may accompany me, as a translator or whatever you think you comment something.”
Penjelasannya begitu syarat ide yang aku minati; tentang eco-tourism, self learning, self-sufficient community. Diaa menyebut nama Nara – aku belum familiar lokasinya di Kreongan atas. Aku tidak terlalu banyak bertanya, satu hal yang membuatku tertarik: akan ada teman lama yang juga hadir. om Donsky – pak Wyn pikir dia pas untuk menerangkan sekilas tentang ekologi.
Aku menjawab singkat bahwa aku akan datang, tapi pastinya kami bakal datang di akhir waktu. Tak banyak ekspektasi, pertemuan selalu menyimpan kemungkinan cerita dan bisa kutuliskan.
Sebelum meninggalkan tempat, ku pastikan ke pak Wyn apakah sudah banyak orang yang datang dan om Donsky apa juga sudah hadir – rupanya dia masih nyangkut di Tamanan, ada acara lain. Diantaranya sudah hadir para dosen dan mahasiswa dari UNEJ.
Bergegas mengambil jaket, kami meningalkan parkiran motor – menuju arah Kreongan melewati Jl. Mastrip dan tembusan ke arah Jl. DR. Soebandi
Malam berlanjut menuju Nara Bestari Cultural Garden.
Tempat ini terasa berbeda dari aula kampus yang baru saja kami tinggalkan. Jika sebelumnya kami berada dalam ruang gelap dengan layar dokumenter, kini kami masuk ke ruang terbuka dengan panggung kecil, area diskusi, dan suasana yang lebih organik.
Pak Win sudah berada di sana bersama beberapa peserta lain. Mereka sedang menyimak penjelasan mengenai proyek yang sedang berjalan.
Pembicaraan malam itu berpusat pada green jobs—gagasan tentang bagaimana pekerjaan, kehidupan, dan lingkungan tidak diposisikan terpisah, melainkan saling menopang.
Beberapa perspektif turut disampaikan, termasuk pandangan dari kalangan akademisi Universitas Jember. Pak Wyn menjelaskan alur proyek dari gagasan awal hingga praktik yang sedang dijalankan.
Aku lebih banyak mendengarkan.
Lalu ketika tiba giliran memperkenalkan diri, aku bercerita singkat tentang apa yang sedang aku kerjakan belakangan ini: cerutu, kopi, tembakau, dan perjalanan yang lebih perlahan—slow journey.
Bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi perjalanan untuk mendengar cerita, melihat lanskap, dan memahami kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Percakapan pun mengalir.
Pak Hadi dan Bu Hadi sebagai pemilik Nara Bestari Cultural Garden turut membagikan pandangan mereka mengenai budaya, ekologi, dan cara hidup yang berdampingan dengan alam.
Dari sana obrolan melebar: tentang manusia dan lanskap, kebiasaan hidup, pengetahuan lokal, hingga warisan yang tetap bertahan di tengah perubahan.
Sampai akhirnya pembicaraan berlabuh pada topik yang terasa dekat bagiku: tembakau.
Tembakau malam itu tidak dibicarakan semata sebagai komoditas.
Ia hadir sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah, masyarakat, lanskap, hingga relasi manusia dengan tanah tempat ia tumbuh.
Kami berbagi cerita singkat mengenai sejarah tembakau, praktik di lapangan, dan bagaimana komoditas ini hidup bersama masyarakat.

Namun rasanya diskusi itu baru membuka pintu.
Masih banyak kisah yang belum disentuh: petani, ekologi, industri, budaya, hingga masa depan tembakau dalam lanskap keberlanjutan.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Pertemuan pun diakhiri.
Kami bersalaman, berpamitan, dan pulang dengan kesan:
Malam itu kalimat awal, dari percakapan yang lebih panjang. Bakal akan ada pertemuan berikutnya.

Catatan Debako:
Kami mulai melihat bahwa percakapan mengenai tembakau tidak lagi cukup jika hanya berhenti pada industri atau produk. Ada ruang yang lebih luas untuk dipertemukan: ekologi, budaya, komunitas, perjalanan, dan kehidupan desa. Mungkin di situlah percakapan-percakapan berikutnya akan bergerak.

