Reportage dari Press Release Debut Album Serversick
Malam itu aku menghadiri undangan press release publik untuk debut album Distorsi Panggung Perak dari band Serversick. Acara berlangsung di Shata Space, Jalan Tidar, Jember.
Aku datang ketika fans mulai berkumpul. Coreng, teman SMA – menyambut dan memperkenalkanku kepada Deden, gitaris Serversick. Sebelum acara dimulai, aku memilih arabika black coffee seperti biasa tanpa gula.
Beberapa orang berbincang di luar ruang, termasuk Nurhan yang selanjutnya aku diperkenalkan dan malam itu memandu jalannya acara. Di atas meja tersedia catatan press release dan secarik list kehadiran. Semua berjalan tertib, dan atribut mereka mayoritas berkaos hitam.
Jam delapan acara dimulai. Empat materi lagu diperdengarkan satu per satu, disertai cerita di balik proses kreatif dan gagasan yang melatarinya. Seluruh peserta memberi perhatian penuh. Tak luput juga ini lebih nikmat dengan sebatang Mylockdown, kuhisap pelan menikmati arrangementnya – melengkapi athmosphere gempita spontan.


Patut diperhatian adalah karakter musikalnya. Musik Serversick tidak sepenuhnya berdiri di atas hentakan yang konstan, layaknya kebanyakan musik heavy metal – ada sisi melodis dan teatrikal yang memberi ruang bagi dinamika, mentrigger penikmat mengekspresikan sebuah aksi. Pada lagu pertama terutama, aku menangkap perpaduan melodi minor yang kemudian baru ku tahu ada keselarasan dengan tema. Begitulah aku mengapresiasikannya.
Malam itu tidak berhenti di ruang press release.
Obrolan berlanjut di luar venue. Aku sempat berbincang lebih dekat dengan Deden, gitaris yang memang gemar mengulik sound-sound mutakhir dengan aplikasi terkini.
Menjelang pukul sebelas malam kami berpindah ke tempat lain untuk makan bersama. Rupanya yang kebagian membawa konsumsi adalah Coreng dengan mi pangsitnya dan air mineral.
Momen kecil itu memperlihatkan sesuatu yang penting: solidaritas.


Penantian Seperempat Abad
Malam itu menjadi lebih bermakna bahwa Distorsi Panggung Perak bukan sekadar rilisan baru. Album ini lahir setelah dua puluh lima tahun perjalanan Serversick. Band metal asal Jember ini telah aktif sejak awal 2000-an dengan pengaruh hardcore, metalcore, industrial, serta jejak skena Bandung seperti Koil dan Sel. Setelah EP Terdigitasi (2002) dan berbagai rilisan lain, album penuh perdana akhirnya hadir pada 2026.
Album ini memuat sembilan lagu yang dipersatukan oleh tema kehancuran, kegelapan, dan kesuraman yang berangkat dari pembacaan terhadap modernisme dan nilai-nilai lama yang membusuk.
Aku kemudian mulai mencerna skena di ruangan itu – begitu memperhatikan setiap lagu yang diputar, ini adalah moment selebrasi dan support dari band seperjalanan.
Solidaritas dan Artefak
Di sudut Falco, percakapan berlanjut pada budaya koleksi fisik dan berjejaring meski kecil namun kuat. Kepada Wisnu, aku bertanya mengapa kaset masih dipertahankan di era digital ini.
Jawabannya sederhana namun kuat: kaset bukan sekadar media pemutar musik. Ia adalah artefak. Bukti bahwa karya pernah lahir, dirawat, dan dihidupi.
Selain kaset, ada merchandise dan rilisan fisik lain yang diproduksi terbatas – menjadi bagian dari identitas komunitas. Jaringan skena ini ternyata juga terhubung ke berbagai kota: Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta hingga Bali.
Wisnu juga menambahkan, circlenya pada beberapa masa juga berhasil menghidupkan aura tersendiri dengan mengundang indie dari luar negeri datang ke Jember. Istilahnya mereka berhasil nyegat untuk perform, sebelum destinasi tur selanjutnya. Tentu saja dengan syarat sederhana, itu semua untuk antusiasme skena yang tersalurkan.
Bagiku, ini dunia baru. Dunia yang dibangun oleh orang-orang yang bersedia menunggu, mendengarkan, dan memberi ruang bagi karya independen.
Malam itu aku pulang dengan pemahaman: bahwa di balik distorsi, ada jaringan kecil yang menjaga karya tetap hidup.

Personnel
- Wiwid Coreng — throat
- De2n — gitar
- Marmuchan — gitar
- Kiki Rooster — drum
Track List — Distorsi Panggung Perak
- Tanah Pembuangan
- Pilar
- Dalam Kosong
- Bias Hitam
- Karam (PagahPukulanMaut-Mix)
- Jember Membara
- Senyawa Tanpa Arti
- Sketsa Visual
- Bunuh Diri Sempurna
Credit List
- Semua lagu ditulis oleh Serversick
- Bass: Sandra (NBHC), Rayen (Second Story), Opex (Ratmi B29)
- Backing vocal Dalam Kosong: Tety Kurniyawati
- Featuring: Jenar ObZen (Sketsa Visual), Decky Zulkarnaen (Bunuh Diri Sempurna)
- Rekaman: SERVERX Home Rec
- Vocal Recording: Rajawali Studio Rec, Morrison Studio Rec
- Mixing: SERVER X Metalogica
- Mastering: SERVERX & Ji Vendy
- Cover Artwork: Herda Ananta Yoga Pratama
- Published by GRK Records
Official Band Photo and Artwork Cover


Serversick on Spotify
https://open.spotify.com/artist/2lNqgwtdKdgpXLoNmLid8m?si=VJ2_60pnSD68VplRBkrpJA

